Depok – Dalam ajang Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, salah satu karya siswa madrasah mencuri perhatian. Inovasi itu berupa wahana bermain kanvas dan gundu, yang ternyata juga bermanfaat untuk membantu siswa disabilitas mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.
Karya kreatif ini digagas oleh Nur Syahwa Syakila, atau akrab disapa Kayla, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 11 Jakarta yang memiliki keterbatasan penglihatan. Ia mengembangkan cara baru mengenal huruf hijaiyah dengan media kanvas yang ditempeli gundu kecil menyerupai pola braille.
“Inovasi ini terus disempurnakan agar semakin mudah digunakan oleh siswa disabilitas,” ujar Halimatus Sakdiyah, Kepala MAN 11 Jakarta, saat ditemui di lokasi pameran, Rabu (29/10/2025).
Sebagai salah satu madrasah inklusif di bawah binaan Kementerian Agama, MAN 11 Jakarta menampung berbagai jenis peserta didik dengan kebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, ADHD, asperger, slow learner, hingga cerdas istimewa dan berbakat (CIBI). Total terdapat 66 peserta didik penyandang disabilitas yang belajar bersama siswa reguler.
Dalam pameran AICIS+ 2025, MAN 11 Jakarta menghadirkan karya-karya dari program madrasah inklusi, keagamaan, akademik, dan keterampilan. Saat stan mereka dikunjungi oleh Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, bersama Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno, dan Rektor UIII Jamhari, Kayla dan temannya, Eky, yang juga tunanetra, tengah mempresentasikan inovasi mereka.
Sekjen Kemenag bahkan sempat menguji hafalan Al-Qur’an Kayla, yang dikenal tekun menjaga hafalannya dengan rutin muraja’ah. “Teruslah belajar dan jaga hafalanmu. Semoga cita-citamu tercapai,” pesan Kamaruddin Amin.
Kanvas dan Gundu sebagai Media Inklusif
Media kanvas dan gundu awalnya dikembangkan untuk pelajaran seni rupa di kalangan siswa tunanetra. Tujuannya agar mereka dapat berekspresi dan menikmati karya seni secara setara dengan teman-teman yang dapat melihat.
Kayla menjelaskan, setiap lukisan dibuat dengan tekstur berbeda menggunakan bentuk-bentuk seperti bulatan, potongan kayu, atau pin kecil yang menonjol sebagai pengganti titik braille. “Pin inilah yang menjadi simbol atau bentuk yang bisa diraba untuk mewakili objek dalam lukisan,” tuturnya.
Ia juga merancang alat sederhana sebagai pengganti riglet, agar penataan pin menjadi lebih rapi dan mudah dibaca. Dalam proses pewarnaan, Kayla memberi aroma berbeda pada setiap warna untuk membantu membedakan warna melalui penciuman. Cat dituangkan dalam botol berujung runcing agar mudah diaplikasikan ke media kanvas.
“Bagi penyandang tunanetra, karya ini bisa ‘dibaca’ melalui rabaan. Sedangkan bagi yang bisa melihat, karya ini tetap indah secara visual,” ujar Kayla.

















